Ia memang autist heparaktif. Mungkin ia memang tak bisa berbicara seperti layaknya kami berbicara, lancar dan mudah mengungkapkan apa-apa yang ingin kami sampaikan. Ia memang diCipta istimewa. Mungkin memang ia tak bisa berjalan cepat seperti kita. Mungkin memang ia tak bisa bertausiyah dengan kata-katanya. Ia tak merasakan nikmatnya sholat di masjid seperti Muslim yang lain. Ia memang tak bisa berinteraksi dengan orang lain dengan mudah, bahkan sekedar menyampaikan maksudnya. Ia mungkin tak terlibat dalam aktifitas dakwah. Ia tak pernah ikut kajian atau tepatnya tidak tahu. Ia mungkin tak menjadi murobbi dengan banyak binaan yang ‘jadi’. Ia memang istimewa. Ia memang tak memiliki itu. Ia, usianya memang telah dewasa tapi ia ditakdirkan untuk seperti anak kecil dalam dunianya. Ia hanya mampu berkata “mesjid… mesjid Pak…” di petang hari mengingatkan sang ayah untuk segera menunaikan sholat.
Tapi mungkin, jika ia sehat seperti kami, ia akan sangat bersemangat sholat berjamaah di masjid. Mungkin ia adalah orang yang sangat aktif dalam dakwah. Mewarisi kecerdasan ayahnya dan melanjutkan cita-cita ayahnya. Kuliah seperti kami dan sangat bersemangat. Dan ayah ibunya akan sangat bangga dan bahagia melihat putranya itu.
Tapi rencana Allah memang sungguh sempurna. Ia dengan segala keistimewaannya adalah bukti Cinta Allah kepada ayah dan ibunya. Ia sekarang berumur 20tahun dan selama itu pula tarbiyah Allah kepada kedua orang tuanya berlanjut. Hingga kini wajah kedua orang tuanya itu bersinar dengan bekas-bekas kesabaran dan kelembutan. Penuh Cinta dan kasih sayang. Ayah ibunya tak membedakannya dengan saudara-saudaranya yang lain yang sehat. Ia mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari kedua orangtuanya. Lihat saja tatapan matanya, bukan tatapan kosong, mencerminkan bahwa ia sangat disayang orang tuanya.
Ia yang istimewa itu…
Jika seorang da’i sering menggunakan kata-katanya dan tingkahlakunya dalam dakwah dengan mad’u yang belum tentu mau menerima dakwahnya. Jika sebaik baik orang adalah yang ketika engkau melihatnya maka nama Allah menjadi disebut. Dan jika pahala orang yang melakukan kebaikan atas ajakan seseorang maka pahalanya akan terus mengalir kepada yang mengajak tanpa harus mengurangi pahala yang beramal ,maka…
Ia, hanya dengan melihatnya orang akan bertasbih “Subhanalloh..”, betapa harus bersyukur bagi kita yang normal dengan segala potensi yang Allah karuniakan, betapa luar biasa orang tua yang mendidik anaknya yang istimewa dengan baik, betapa segala kesulitan hidup yang kita rasakan tak seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang dialaminya. Orang yang berjumpa dengan teman kami itu akan dapat kembali bersemangat. Dan bila tak bersamanya kemudian menghadapi sebuah rintangan, lalu terinspirasi oleh teman kami untuk terus melaju…
Mungkin begitulah cara Allah menjadikan teman kami berharga. Mungkin itulah rahasia Allah, potensinya yang luar biasa, menginspirasi orang lain hanya dengan melihatnya. Mungkin dengan cara itu kelak Allah akan memberikan balasan terbaik di hari pembalasan . Menjadi normal, sehat danb dapat membacakan ayat-ayat Allah di samping ayah ibunya di jannahNya kelak, dengan bacaannya yang tartil menjadi penebus kerinduan ayah ibunya akan suaranya yang lancar semasa di dunia…. Wallohua'lam
Senin, 03 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)