Kamis, 07 Mei 2009

LEMBARAN yang pernah tercecer...

Oktober tahun 1998, Pagi itu, di depan sekolah yang sudah selayaknya dapat perhatian dari pemerintah untuk segera direhab, SD Negeri Kedungreja2. Saat itu di halaman sekolah, seorang murid perempuan kelas 5SD berdiri didepan barisan kawan-kawannya. Teman-teman yang sudah 5th menemaninya dalam menuntut ilmu, teman-teman yang membersamainya mengeja huruf, belajar menghitung. Teman-teman yang jahil mengganggunya ketika ia serius belajar di kelas, yang menjadi saingan untuk dapat rangking satu, atau yang minta diajari krtika "gx mudeng" dengan pelajaran-pelajaran dari sang guru dan mereka yang mengalahkannya saat lari dalam pelajaran olahraga.
Hari itu, mereka semua berbaris rapi ,berjajar memanjang berhadapan dengan si gadis kecil. Mereka semua sama dengan gadis kecil itu, tertunduk dengan suasana hati yang tak karuan. gadis kecil itu berdiri di samping guru kelasnya, ia menunduk. ia yang cengeng tak lagi bisa menahan satu persatu butiran air mata yang meleleh menetes membasahi pipinya. Dengan amat berat ia berjalan menyalami satu demi satu mereka yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Ia sangat benci suasana kali ini. dsalam hatinya ia berkata "kenapa Allah tak adil memisahkanku dengan teman-teman kecilku, yang menemaniku bermain? lalu, apakah besok aku kan mendapat sahabat sebaik mereka? Teman-teman aku sayang kalian..." Ia yang masih kecil tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ...
Satu, satu tangan itu terlepas dari genggaman. Oh... ada yang memberinya uang 500 rupiah, uang yang cukup banyak waktu itu, karena ia sekolah hanya bawa uang saku 200rupiah paling sering. Dia, sahabat yang sering jadi rivalnya untuk dapatkan nilai bagus... Sesudah sampai ujung barisan, murid perempuan itu menangis dan pulang ke rumahnya...

Akhirnya waktupun terus berjalan. Saatnya perpisahan. hari itu ia bersama keluarganya pergi ke purworejo, pindah rumah mengikuti ayah berpindah tugas. pergi jauh entah kapan bisa bertemu lagi...

Singkat cerita waktu terus berjalan....
Si gadis kecil punya sekolah baru, bagus sekli dalam pandangannya. Sekolah yang sejuk dengan banyak pohon jambu yang tinggi dan lebat. di depan sekolah ada aliran sungai , ada jalan yang ramai dilewati orang. sungguh berbeda dengan sekolah lamanya. Lalu ia kenal yang namanya telepon umum... Ya Allah, di desaku dulu untuk cari wartel saja sulitnya...gx ketemu-ketemu.

2002.Kini ia kelas 2SMP. Allah menghendakinya untuk berkunjung ke Kedungreja. Teman-teman, semuanya masih sangat akrab seolah tak pernah berpisah, hanya saja terdengar kabar yang kurang ia suka. Langgar surau yang dulu ramai tempat mereka mengaji bersama katanya sekarang sepi. anak-anak tak lagi mau mengaji. Dan kabar yang tak kalah menyedihkan, beberapa orang teman sekarang tak lagi sekolah setelah lulus SD karena tak punya biaya.

2006. Keluarga dari kedungreja datang ke rumah karena undangan sunatan adik laki-lakinya. Ia sangat gembira. Dia mencari-cari temannya yang ternyata tak ada yang ikut. Saat ia bertanya kabar mereka, ibu dan tetangga tadi menjawab dengan jwaban yang tidak begitu ia sukai "Temenmu ia sedang hamil 9bulan dan sedang persiapan kelahiran (hamil sebelum nikah) , yang lain akan segera menikah." Seketika terbayang kenangan masa lalu yang indah, bermain bersama, menjelajahi pekarangan yang luas seperti hutan (setidaknya dalam pikiran anak-anak SD). Semua telah berlalu... Ia yang sedang semangat mengerjakan ujian akhir SMA tak lagi mampu mengucap kata bahkan sekedar tanggapan.

2009. Kini Allah memberkan kesempatan untuk kuliah di jurusan biologi di sebuah universitas negeri di solo. Komunikasi dengan teman-teman di Kedungreja masih bisa tersambung meski hanya lewat HP dalam beberapa bulan. Kabar terakhir bahwa teman-temannya ada yang menjadi TKW ke Malaysia (ini pekerjaan yang banyak diminati) di daerah itu. Ada yang sedang mengasuh anaknya. Sekolahan sekarang kalau malam sering dipake anak-anak muda untuk minum minuman keras atau nongkrong di perempatan jalan samping SD. Tanah di sana cukup kurang subur dan hawanya panas...

Gadis kecil-murid perempuan- itu kini dengan karunia Allah telah menjadi seorang akhawat, InsyaAllah. Ia berharap mudah-mudahan suatu saat nanti Allah mengijinkannya untuk berjuang disana... menyalakan lilin penerang di kegelapan peradaban sebuah desa kecil daerah ujung jawa tengah yang tak jauh dari batas wilayah jawa barat. Di sana. lalu ,menyalakan obor perdamaian mengajak anak-anak dengan suka ria berlari menuju mushola dan masjid untuk mengaji. Mengajak hingga para remaja putri disana tertinggal lomba berjilbab dalam kehidupan sehari-hari, dan para pemudanya tak lelah belajar, berjuang untuk tetap sekiolah. dan suara kata "membentak" suara keras pada orang tua mereka tak lagi pernah ada kasus seperti itu, di sana... Mudah-mudahan... Wallohua'alam. Teruslah Berjuang ...!!!

"... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al baqoroh:216)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar